Oleh: Andri Rifandi (Ketua Umum DPD IMM Kalimantan Timur)
Bismillahirrahmanirrahim.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Hari ini, langit dakwah Muhammadiyah Kalimantan Timur diselimuti duka yang teramat dalam. Kita kehilangan seorang guru, seorang bapak, dan kompas ideologis gerakan kita—Ayahanda K.H. Siswanto, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kaltim. Kepulangan beliau bukan sekadar hilangnya satu sosok, melainkan padamnya salah satu pelita keteladanan terbaik yang kita miliki.
Bagi saya pribadi dan seluruh kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kaltim, kepergian Ayahanda terasa begitu cepat, terutama setelah pertemuan emosional kita di forum Pembukaan Rakorda kemarin. Di podium itu, di hadapan kita semua, beliau berdiri bukan hanya sebagai seorang pemimpin, melainkan sebagai seorang ayah yang sedang menitipkan wasiat terakhirnya yang paling berharga kepada anak-anak kandung ideologisnya.
Saya masih ingat betul bagaimana tatapan mata beliau yang teduh namun penuh ketegasan tertuju pada kami. Beliau berpesan, di sisa akhir masa kepemimpinan ini, DPD IMM Kaltim tidak boleh lelah untuk terus merawat dan mengingatkan kembali seluruh kader tentang Enam Penegasan IMM. Sebuah amanah pelestarian nilai yang kini menjadi tugas suci yang harus kami pikul di pundak-pundak kami yang masih ringkih ini.
Beliau mengingatkan kita dengan kalimat yang sangat sederhana namun menembus relung hati: “Tujuan dasar IMM itu untuk menggairahkan gairah dakwah di kampus.” Ayahanda ingin kita kembali ke akar. Beliau tidak ingin gemerlapnya narasi kebangsaan atau riuhnya panggung politik praktis membuat mata kita buram terhadap tugas utama kita—menghidupkan napas Islam dan ideologi Muhammadiyah di ruang-ruang kuliah.
Namun, yang paling memukul kesadaran kita adalah peringatan keras yang beliau sampaikan dengan penuh rasa sayang: “Jangan sampai ikatan yang suci ini dijadikan sekadar sebagai batu loncatan untuk mendapatkan kepentingan pribadi.” Kalimat ini adalah tamparan sekaligus kompas bagi kita semua. Ber-IMM adalah tentang keikhlasan yang murni, tentang pengorbanan yang sunyi dari pamrih material dan jabatan.
Ayahanda K.H. Siswanto kini telah menuntaskan tugasnya di dunia dengan husnul khatimah. Beliau telah kembali ke haribaan Ilahi, meninggalkan warisan keteladanan yang takkan lekang oleh waktu.
Kepada seluruh kader IMM se-Kalimantan Timur, mari kita kibarkan bendera setengah tiang di hati kita masing-masing. Namun, jangan biarkan duka ini melumpuhkan kita. Cara terbaik untuk menghormati kepergian Ayahanda adalah dengan membuktikan bahwa amanah yang beliau titipkan tidak jatuh ke tangan yang salah. Mari kita jaga kemurnian niat, kita tegakkan khittah Muhammadiyah, dan kita rawat ikatan suci ini dari noda-noda pragmatisme.
Selamat jalan, Ayahanda tercinta. Selamat beristirahat di keabadian. Kami, anak-anakmu di IMM Kalimantan Timur, berjanji akan menjaga api dakwah yang telah engkau nyalakan, sampai giliran kami yang harus menghadap-Nya.
Saya turut bangga pemikiran mu wahai dinda IMM & IMMawati di Kalimantan Timur. Teruslah tingkatkan ibadah mahdho dan muamalah di IMM dan ikhlas. Suatu saat saya berkunjung menemui mu.