TANAH GROGOT – Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Bumi Daya Taka kembali dirundung duka yang amat mendalam. Salah satu putra terbaik, tokoh senior sekaligus sejarawan Muhammadiyah, yang merupakan pensiunan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Paser, Bapak H. Syarifuddin Muhsin Bin Muhsin, telah dipanggil pulang ke rahmatullah pada hari ini, Senin 13 Juli 2026 pukul 10.10 WITA di RSUD Panglima Sebaya, Tanah Grogot.
Almarhum akan disemayamkan di Rumah Duka, Jalan Jenderal Sudirman (samping Bank Muamalat), Tanah Grogot. Kepergian beliau bukan sekadar kehilangan seorang figur ayah, guru, dan teladan yang dihormati, melainkan juga penanda berakhirnya sebuah era.
H. Syarifuddin Muhsin adalah saksi hidup terakhir sekaligus pemegang memori kolektif dari berbagai peristiwa besar yang membentuk wajah dakwah Islam di Kabupaten Paser.
Saksi Kunci Sejarah dan Kebersamaan NU-Muhammadiyah
Bagi generasi muda Paser, kisah kedatangan ulama kharismatik Prof. DR. Buya Hamka di Tanah Grogot pada April 1974 mungkin hanya akan menjadi dongeng masa lalu jika bukan karena ingatan emas seorang H. Syarifuddin Muhsin. Sebagai Sekretaris Panitia Hari Besar Islam (PHBI) kala itu, beliau terlibat langsung dalam momen-momen krusial perjumpaan tersebut.
Melalui catatan sejarah yang dijaganya, almarhum kerap mengisahkan kembali betapa indahnya persatuan umat di Tanah Grogot. Beliau menjadi saksi bagaimana dua tokoh besar ormas keagamaan Paser—KH Abdul Fatah Majidy (Pendiri Ponpes Bina Islam/Tokoh Muhammadiyah) dan Guru Haruna (Tokoh Nahdlatul Ulama)—berdiri bersama di pintu helikopter di Lapangan Garuda Jalan Panglima Sentik untuk menjemput Buya Hamka.
Dari tutur beliau, kita belajar tentang “Trilogi Kerukunan” yang dipesankan Buya Hamka. Terlebih lagi momen ikonis saat Buya Hamka, sang tokoh Muhammadiyah, dengan kebesaran hatinya memimpin shalat subuh menggunakan doa qunut di Masjid Agung Nurul Falah demi menghormati jamaah setempat yang mayoritas warga NU. Nilai toleransi mahal inilah yang selalu dirawat dan diceritakan kembali oleh almarhum.
Jejak Pengabdian: Dari 40 Jamaah hingga Benteng Zakat Umat
Tak hanya mewariskan ingatan lisan, almarhum sempat meninggalkan goresan pena berharga yang merangkum awal mula pergerakan dakwah di tanah Paser. Dalam catatannya yang bertajuk “Sekilas Sejarah Awal Mula Muhammadiyah Paser Sholat Ied di Lapangan”, beliau mengurai bagaimana heroisme para perintis menyebarkan syiar Islam sejak tahun 1967.
Beliau mencatat dengan detail bagaimana Muhammadiyah Paser memelopori tradisi Shalat Id di lapangan terbuka (Lapangan Garuda). Momen yang awalnya hanya dihadiri oleh kurang lebih 40 orang yang terdiri dari keluarga inti tokoh-tokoh pendiri—seperti Pembakal Herman T, KH. Abdul Fatah Majidy, Muchtar HT, hingga HM. Ridwan Suwidi—kini telah tumbuh kosmosnya menjadi ribuan jamaah.
Kiprah nyata H. Syarifuddin Muhsin juga terpatri lewat dedikasinya memimpin Badan Amil Zakat Muhammadiyah selama lebih dari 10 tahun dengan memanfaatkan Musholla Al-Islam sebagai pusat gerakan. Beliau adalah saksi hidup lahirnya amal usaha seperti BKIA, TK ‘Aisyiyah (cikal bakal SD Muhammadiyah), Hizbul Wathan, Tapak Suci, hingga pembentukan KOKAM (Korps Komando Keamanan Muhammadiyah) Paser yang bertugas mengawal dan menjaga keamanan fisik Buya Hamka selama berada di Tanah Grogot.
Berpulangnya Orang Terakhir di Foto Bersejarah 1974
Dengan wafatnya H. Syarifuddin Muhsin, kini lengkap sudah seluruh figur yang ada dalam foto dokumentasi legendaris kunjungan Buya Hamka tahun 1974.
Dalam foto hitam-putih yang bersejarah itu, almarhum berdiri di barisan depan bersama tokoh-tokoh besar Paser lainnya seperti Wakil Bupati Bapak Ibramsyah, Sekda HM Idris Umar, mantan Bupati HM Ridwan Suwidie, dan para pembesar daerah kala itu. Beberapa waktu sebelum wafatnya, almarhum sempat berujar lirih bahwa dari seluruh orang yang berada di foto tersebut, hanya tersisa dirinya yang masih ada di dunia. Kini, formasi bersejarah itu telah berkumpul kembali di keabadian.
Teladan “Pejuang Subuh” dan Pembelajar Al-Qur’an
Di masa senjanya yang menyentuh usia 79 tahun,
H. Syarifuddin Muhsin dikenal sebagai sosok yang luar biasa bugar. Kepada para jamaah, almarhum sering membagikan “resep ampuh” kesehatannya, yaitu merutinkan mandi subuh sebelum fajar dan tiada hari tanpa membaca Al-Qur’an.
Dedikasinya terhadap dakwah tidak pernah luntur oleh usia. Hingga akhir hayatnya, beliau masih aktif mengasuh pengajian dan kajian rutin setiap Jumat malam selepas shalat Maghrib di Masjid Syuhada Tanah Grogot.
“Ulama, pejuang, dan sejarawan boleh wafat, namun nilai-nilai toleransi, keteladanan, dan kesetiaan pada umat yang mereka wariskan akan tetap hidup di hati sanubari masyarakat Paser.”
Masyarakat Kabupaten Paser merasa sangat kehilangan atas kepergian sang murabbi. Kita bersaksi bahwa almarhum adalah orang baik, pejuang subuh yang istiqamah, dan benteng sejarah Islam di tanah Paser.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu. Selamat jalan, Ayahanda H. Syarifuddin Muhsin Bin Muhsin. Terima kasih telah menjaga memori Kabupaten ini dan menuntun kami dengan keteladanan yang nyata.
Semoga amalan dakwah almarhum menjadi ladang amal jariyah yang mengantarkannya ke jannah terindah di sisi Allah SWT. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Penulis : Andri Rifandi (Kader Muda Muhammadiyah Paser)
