Tragedi di Menara Gading dan Mimbar Agama: Runtuhnya Segitiga Moralitas Kita

Penulis: Jumadin, S.H

Belakangan ini, ruang publik kita terus-menerus disuguhi rentetan berita yang mengiris nurani. Kita dihadapkan pada realitas pahit di mana pelecehan seksual tidak lagi hanya terjadi di lorong-lorong gelap, melainkan telah menembus dinding-dinding sakral institusi pendidikan dan keagamaan.

Rentetan kasus ini bagaikan tamparan keras. Mulai dari oknum Kyai pengasuh lembaga pendidikan yang menyalahgunakan otoritasnya, skandal yang melibatkan seorang Syeikh asal Mesir, hingga tindak asusila oleh seorang profesor bergelar akademik mentereng di sebuah universitas ternama. Lebih miris lagi, dekadensi moral ini menular hingga ke akar rumput, terbukti dari maraknya kasus mahasiswa yang melecehkan sesamanya, bahkan dosennya sendiri.

Melihat fenomena lintas status dan generasi ini, satu pertanyaan fundamental muncul: Mengapa gelar akademik yang tinggi dan jubah agama yang dihormati tak lagi mampu menjadi perisai moral?

Ketidakseimbangan Akal, Nafsu, dan Iman

Manusia pada dasarnya digerakkan oleh tiga poros utama: akal, nafsu, dan iman. Ketiganya membentuk sebuah segitiga pengatur yang menentukan arah laku manusia. Dalam ekosistem jiwa yang sehat, iman berfungsi sebagai kompas tertinggi yang membimbing akal, dan akal bertugas mengendalikan nafsu.

Namun, realitas hari ini menunjukkan kerusakan sistemik pada segitiga tersebut. Paparan digitalisasi yang tak terkendali—termasuk masifnya akses pornografi—telah menjadi pupuk penyubur bagi nafs al-hayawaniyyah (nafsu hewani). Ketika nafsu bertahta, ia tidak serta-merta mematikan akal. Sebaliknya, nafsu menjajah dan memperbudak akal. Nalar yang cerdas justru digunakan untuk merencanakan tindakan manipulatif, menutupi jejak, dan membungkam korban melalui relasi kuasa.

Di sinilah letak bahayanya. Otoritas keagamaan maupun akademik menciptakan ketimpangan relasi yang sangat ekstrem. Pelaku menggunakan statusnya agar korban merasa tidak berdaya, takut akademiknya dipersulit, atau takut suaranya tidak dipercaya oleh masyarakat karena yang dilawan adalah “orang besar”.

Krisis Adab dan Korupsi Ilmu

Meminjam pisau analisis filsuf Syeikh Syed Muhammad Naquib al-Attas, rentetan kasus ini adalah wujud nyata dari Korupsi Ilmu yang bermuara pada The Loss of Adab (Hilangnya Adab).

Sistem pendidikan kita sering kali terjebak pada glorifikasi pencapaian kognitif semata. Kita mencetak individu dengan gelar berderet, namun hampa secara spiritual. Ilmu telah dipisahkan dari hikmah. Akibatnya, lahir manusia-manusia “pintar” namun tunamoral. Adab bukanlah sekadar sopan santun; ia adalah kemampuan meletakkan segala sesuatu pada tempat yang hak dan adil. Mereduksi martabat manusia menjadi sekadar objek pemuas syahwat adalah puncak dari kezaliman dan hilangnya adab. Hal ini membuktikan bahwa hafalan teks agama atau publikasi jurnal yang bertumpuk sama sekali tak berguna jika gagal menundukkan ego di dalam diri.

Panggilan Profetik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Dalam menghadapi krisis multi-dimensi ini, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tidak boleh hanya menjadi penonton di pinggir gelanggang. Momentum pergerakan dan konsolidasi gagasan kita di Kalimantan Timur hari ini harus dimaknai sebagai upaya merapatkan barisan melawan kezaliman tersebut.

Sebagai kader, kita harus kembali meresapi jiwa dari Enam Penegasan IMM, yang secara filosofis adalah antitesis mutlak dari krisis moral ini.

Ketika banyak oknum mencederai gelar akademiknya karena akal yang diperbudak nafsu, IMM telah memancangkan komitmen pada penegasan kelima: “Ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah”. Bagi kader IMM, ilmu dan pencapaian intelektual bukanlah alat legitimasi untuk menindas atau memanipulasi, melainkan cahaya yang harus mewujud dalam amal kebajikan dan adab yang luhur. Kecerdasan kognitif senantiasa harus tunduk pada keimanan.

Lebih jauh, maraknya kekerasan seksual yang merusak generasi ini harus kita lawan dengan spirit penegasan keenam: “Amal IMM adalah lillahi ta’ala dan senantiasa diabadikan untuk kepentingan rakyat”. Melindungi para mahasiswa, santri, dan masyarakat dari predator berjas rapi atau berjubah agama adalah bentuk nyata advokasi dan pembelaan kita terhadap kepentingan rakyat.

Sebagai eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah yang bergerak dengan landasan Kepribadian Muhammadiyah, IMM Kalimantan Timur harus hadir sebagai garda terdepan pembawa pencerahan. Kita memiliki tanggung jawab sejarah untuk memutus rantai korupsi ilmu ini dari dalam ruang-ruang kampus kita sendiri. Mari jadikan akal, nafsu, dan iman berjalan seimbang, agar gelar setinggi apa pun kelak, tak akan pernah mampu mencabut akar kemanusiaan kita. [jm]

Tinggalkan komentar