Pesan Hangat Ayahanda di Pembukaan Rakorda: KH Siswanto Ingatkan Kemurnian Niat dan Akar Perjuangan IMM Kaltim

SAMARINDA — Gemuruh semangat dan yel-yel pergerakan yang mewarnai malam Pembukaan Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) DPD IMM Kalimantan Timur seketika berganti menjadi suasana yang syahdu dan penuh khidmat. Tepat pada Jumat (8/5/2026) malam, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Timur, K.H. Siswanto, berdiri di mimbar dan memberikan pesan-pesan yang menyejukkan sekaligus menghangatkan sanubari ratusan kader jas merah yang memadati aula.

Bukan sekadar pidato seremonial, sambutan yang disampaikan oleh K.H. Siswanto malam itu terasa seperti wejangan dari seorang ayah kepada anak-anaknya yang sedang berjuang. Beliau mengajak seluruh kader yang hadir untuk sejenak menundukkan kepala, menarik napas panjang, dan kembali membuka lembaran sejarah awal mula didirikannya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Secara khusus, beliau menitipkan pesan emosional kepada Ketua Umum DPD IMM Kaltim, Andri Rifandi. “Sebagai Ketua IMM Kaltim, Mas Andri, di penghujung masa kepemimpinan ini, Anda harus mengingatkan kembali seluruh kader tentang Enam Penegasan IMM,” tutur K.H. Siswanto dengan nada kebapakan yang khas. Pesan ini seolah menjadi amanah pelestarian nilai yang harus terus diwariskan dari satu generasi kepemimpinan ke generasi berikutnya.

Di tengah riuhnya dinamika zaman dan godaan pragmatisme, K.H. Siswanto menyentuh hati para kader dengan mengingatkan kembali alasan paling dasar mengapa IMM itu ada.

“Tujuan dari adanya IMM itu sebenarnya sederhana,” ucap beliau, memecah keheningan ruangan. “Yaitu untuk menggairahkan gairah dakwah di kampus. Itu saja.”

Sebuah kalimat yang singkat, namun memiliki kedalaman makna yang luar biasa. Beliau ingin menegaskan bahwa sehebat apa pun narasi kebangsaan atau isu politik yang dikawal oleh kader, tugas mulia menghidupkan napas Islam dan ideologi Muhammadiyah di bilik-bilik perkuliahan tidak boleh pernah ditinggalkan. IMM adalah anak panah Muhammadiyah di jantung perguruan tinggi.

Lebih lanjut, K.H. Siswanto menegaskan bahwa IMM harus bisa menjadi penegak khittah Muhammadiyah. Syarat utamanya adalah setiap kader harus benar-benar memahami ideologi Muhammadiyah secara utuh dan mendalam.

Di akhir nasihatnya, beliau memberikan sebuah peringatan keras yang dilandasi oleh rasa sayang agar para kader tidak tergelincir. “Jangan sampai ikatan yang suci ini dijadikan sekadar sebagai batu loncatan untuk mendapatkan kepentingan pribadi,” tegas beliau.

Pesan penutup tersebut seolah menjadi pengingat yang meresap kuat malam itu. Bahwa ber-IMM adalah tentang keikhlasan beramal, bukan tentang apa yang bisa didapatkan secara material atau jabatan semata.

Rakorda IMM Kaltim tahun ini pun resmi dibuka. Bukan hanya ditandai oleh tabuhan gong atau riuh tepuk tangan, tetapi dibuka dengan kesadaran baru di hati setiap kader: bahwa mereka memiliki rumah bernama IMM, dan rumah itu harus dijaga kemurnian niatnya demi masa depan peradaban. [jm]

Tinggalkan komentar