Ketum DPD IMM Kaltim Andri Rifandi Ajak IMM Balikpapan Cetak Kader Berintegritas Lewat Penguatan Perkaderan

BALIKPAPAN — Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kalimantan Timur, Andri Rifandi, menantang Pimpinan Cabang (PC) IMM Kota Balikpapan untuk menjadikan tiga bulan setelah penerimaan mahasiswa baru sebagai momentum besar penguatan kaderisasi.

Pesan itu disampaikan Andri saat memberikan sambutan pada pengukuhan PC IMM Kota Balikpapan periode 2026–2027 di Gedung Dakwah Aisyiyah Kota Balikpapan, Sabtu (18/7/2026).

Menurutnya, sebagai organisasi kader, kekuatan utama IMM terletak pada proses perkaderan. Tahapan itu dimulai dari Masa Ta’aruf (Masta) sebelum berlanjut ke jenjang Darul Arqam Dasar (DAD).

“Agustus merupakan bulan masuknya mahasiswa baru. Saya menantang pimpinan cabang agar menjadikan September, Oktober, dan November sebagai bulan perkaderan, khususnya Darul Arqam Dasar, sehingga mahasiswa yang memiliki semangat dakwah Muhammadiyah dapat bergabung bersama IMM,” ujarnya.

Ia bahkan menyampaikan tantangan tersebut secara langsung kepada pengurus baru dan menegaskan bahwa DPD IMM Kalimantan Timur akan memantau pelaksanaannya sebagai bagian dari evaluasi organisasi.

Selain memperkuat kaderisasi, Andri mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai dasar yang menjadi identitas kader IMM melalui Trikompetensi Dasar IMM, yakni religiusitas, intelektualitas, dan humanitas.

Menurutnya, religiusitas harus menjadi fondasi utama setiap kader. Berorganisasi di IMM tidak cukup hanya aktif dalam kegiatan, tetapi juga harus diiringi dengan pengamalan nilai-nilai keislaman sebagaimana dipahami Muhammadiyah.

Ia mengajak seluruh kader untuk lebih dekat dengan masjid Muhammadiyah dan menjadikannya sebagai pusat gerakan dakwah serta pembinaan kader.

“Salah satu penegasan IMM adalah menghidupi masjid Muhammadiyah. Masjid-masjid PDM maupun PCM harus menjadi pusat gerakan, dan kader IMM harus menjadi penggeraknya,” katanya.

Andri juga melihat peluang besar menjadikan masjid sebagai ruang membangun kaderisasi, termasuk menghidupkan kembali tradisi pembinaan di lingkungan kampus maupun persyarikatan.

Di bidang intelektualitas, ia menilai kader IMM harus membangun tradisi kajian yang kuat sehingga setiap sikap kritis memiliki dasar keilmuan yang jelas.

Ia berharap dari diskusi dan kajian yang dikembangkan IMM Balikpapan akan lahir gagasan besar bagi kemajuan Muhammadiyah, termasuk mewujudkan berdirinya Universitas Muhammadiyah di Balikpapan.

“Kita sudah memiliki sumber daya manusia yang mumpuni, termasuk para senior bergelar doktor. Itu menjadi modal besar untuk membangun kampus Muhammadiyah di Balikpapan,” ungkapnya.

Sementara pada aspek humanitas, Andri mengajak kader IMM tidak hanya aktif dalam kegiatan sosial seperti penggalangan dana, tetapi juga benar-benar hadir di tengah masyarakat, khususnya masyarakat kurang mampu di kawasan pinggiran Kota Balikpapan.

Dia juga menegaskan pentingnya kehadiran kader IMM hingga ke cabang dan ranting Muhammadiyah sebagai bentuk penguatan gerakan di akar rumput.

Menurut Andri, ketiga nilai tersebut hanya dapat berjalan optimal apabila dibangun melalui semangat kolaborasi.

Ia mengingatkan pesan almarhum Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Timur, Kiai Siswanto, agar seluruh kader tidak berjalan sendiri-sendiri dalam perjuangan.

“Banyak gerakan yang bisa dilakukan bersama. Libatkan IPM, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, serta dukung gerakan Muhammadiyah dan ’Aisyiyah. Dakwah akan lebih kuat jika dilakukan secara berjemaah,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Andri juga memohon doa dan dukungan seluruh keluarga besar Muhammadiyah agar Kalimantan Timur dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar IMM ke-21 yang direncanakan berlangsung di Samarinda pada Desember 2026.

Ia mengungkapkan, hingga saat ini Kalimantan Timur masih bersaing dengan Kalimantan Selatan untuk menjadi penyelenggara Muktamar.

“Mudah-mudahan setelah mengikuti Tanwir pada September nanti, kami dapat membawa kabar baik bahwa Muktamar IMM ke-21 akan diselenggarakan di Kalimantan Timur,” katanya.

Lebih lanjut, Andri mengingatkan bahwa kader IMM saat ini menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks, mulai dari persoalan keluarga, pergaulan bebas, hingga berbagai penyimpangan moral yang berkembang di tengah masyarakat.

Sebab itu, ia mengajak seluruh kader untuk tetap menjadi pelopor dakwah yang mencerahkan, menjaga nilai-nilai agama, serta membangun kolaborasi dalam menghadirkan solusi bagi masyarakat.

“Kita adalah harapan bangsa, harapan persyarikatan, dan harapan agama. Mari bersama-sama membuka jalan menuju kebenaran, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan menjadi generasi yang membawa manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (SR)

Tinggalkan komentar