Tak Hanya Sekadar Pancasila

Oleh: Andri Rifandi
(Ketua Umum DPD IMM Kalimantan Timur)

Setiap bulan Juni, ingatan kolektif kita sebagai bangsa selalu ditarik kembali pada sebuah momentum historis: lahirnya Pancasila. Pidato Bung Karno di depan sidang BPUPKI tahun 1945 silam bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan sebuah kontrak sosial fundamental yang mengikat keberagaman Indonesia.

Namun, mari kita jujur pada diri sendiri. Di era digital hari ini, apakah Pancasila masih hidup sebagai penuntun moral, atau ia telah menyusut menjadi sekadar jargon musiman? Apakah ia masih menjadi kompas ideologis, atau jangan-jangan hanya berakhir sebagai tagar di media sosial dan hapalan wajib saat upacara?

Bagi generasi muda, Pancasila tidak boleh mandek sebagai pemanis retorika politik. Pancasila harus dipahami secara progresif—ia adalah teks yang hidup, dinamis, dan melampaui sekadar simbol negara.

Darul Ahdi wa Syahadah Pancasila dalam Nalar Teologis dan Kebangsaan
Bagi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan kaum muda berkemajuan, memahami Pancasila tidak bisa dilepaskan dari konsep Darul Ahdi wa Syahadah yang memiliki arti Negara Kesepakatan dan Kesaksian.

Konsep ini bukan sekadar ijtihad politik, melainkan sebuah cara pandang teologis-kebangsaan yang sangat dalam.

Darul Ahdi (Negara Kesepakatan) Menegaskan bahwa Indonesia berdiri di atas konsensus bersama seluruh elemen bangsa yang majemuk. Pancasila adalah titik temu (kalimatun sawa).

Tugas pemuda di sini adalah menjaga kesepakatan tersebut dari ronggongan ideologi transnasional maupun ego sektoral yang ingin menang sendiri.

Darul Syahadah (Negara Kesaksian) Ini adalah aspek pembuktian. Menjadi bagian dari Indonesia berarti kita harus bersaksi dengan cara mengisi kemerdekaan melalui kerja nyata. Kita dituntut membawa maslahat, menegakkan keadilan, dan memakmurkan kehidupan bangsa.

Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah mengajarkan kita bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman, dan merawatnya adalah bentuk ibadah yang nyata.

Nilai Kepemudaan
Menjemput Pancasila dari Langit Retorika
Anak muda hari ini menghadapi tantangan yang jauh berbeda dengan generasi ’45 atau ’98. Kita tidak lagi bertempur melawan meriam, melainkan melawan banjir informasi, polarisasi digital, krisis iklim, dan ketimpangan ekonomi.

Di sinilah nilai kepemudaan harus mengontekstualisasikan Pancasila.
Pertama Pancasila adalah Inklusivitas. Di tengah maraknya cyberbullying dan polarisasi politik, anak muda harus mempraktikkan sila ketiga (Persatuan Indonesia) dengan menjadi jembatan dialog, bukan agen perpecahan di ruang siber.

Kedua Pancasila adalah Keadilan Ekologis. Kalimantan Timur hari ini sedang menjadi sorotan dunia sebagai episentrum Ibu Kota Nusantara (IKN). Sebagai pemuda Kaltim, mengamalkan sila kelima (Keadilan Sosial) berarti memastikan bahwa pembangunan IKN tidak menggerus hak-hak masyarakat adat dan kelestarian lingkungan lokal.

Ketiga Pancasila adalah Nalar Kritis. Sila keempat mengajarkan hikmat kebijaksanaan dan musyawarah. Pemuda yang Pancasilais adalah mereka yang tidak menelan mentah-mentah hoaks, melainkan mereka yang mengedepankan nalar kritis dalam merespons kebijakan publik.

Bergerak Melampaui Simbol
Pancasila itu Tak Hanya Sekadar bait-bait yang dihafal di luar kepala. Ia adalah etos kerja. Ia adalah kepedulian sosial ketika melihat tetangga kita kelaparan. Ia adalah keberanian untuk bersuara ketika melihat ketidakadilan hukum terjadi di depan mata.

Jika kita hanya menempatkan Pancasila sebagai hiasan dinding atau teks sakral yang tak boleh diperdebatkan maknanya, maka kita sedang membunuh Pancasila itu sendiri secara perlahan.
Sebagai kader IMM dan representasi pemuda Kalimantan Timur, penulis ingin mengajak seluruh elemen kepemudaan untuk merebut kembali makna Pancasila dari tangan-tangan yang kerap menjadikannya alat pemukul politik.

Mari kita jadikan Pancasila sebagai energi penggerak.
Mari kita buktikan bahwa di tangan pemuda, Pancasila adalah ideologi yang bekerja; yang mampu menjawab tantangan zaman, menyejahterakan rakyat, dan membawa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat di mata dunia.

Sebab Indonesia masa depan, adalah Indonesia yang dirawat oleh komitmen nalar dan aksi nyata pemudanya hari ini.

Tinggalkan komentar