Oleh: Muhammad Idil (Ketua DPP IMM Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM))
Di Iduladha, kita sering menangis saat mendengar kisah Nabi Ibrahim. Tentang seorang ayah yang diuji untuk mengorbankan anak yang paling dicintainya. Namun sering kali, kita lupa merenungi satu hal yang lebih dekat dengan kehidupan kita hari ini bagaimana rasanya menjadi Ismail. Menjadi seseorang yang harus menerima kenyataan meski hati belum sepenuhnya siap dan mungkin tanpa kita sadari hari ini kita semua sedang memerankan hidup sebagai Ismail.
Ada orang-orang yang harus mengikhlaskan mimpinya karena keadaan ekonomi, ada anak muda yang diam-diam mengubur cita-citanya demi membantu keluarga, ada seseorang yang kehilangan orang yang paling dicintainya tepat ketika ia sedang sangat membutuhkan sandaran, ada yang setiap malam terlihat tertawa di media sosial, tetapi diam-diam menangis karena hidup tidak berjalan seperti yang direncanakan.
Kita hidup di zaman yang penuh tekanan.
Semua orang dipaksa terlihat kuat, dipaksa terlihat sukses, dan dipaksa terlihat bahagia. Padahal banyak manusia hari ini sedang lelah menghadapi hidupnya sendiri.
Kita sedang berada di fase kehidupan ketika doa-doa belum juga menemukan jawaban. Ketika usaha terasa tidak sebanding dengan hasil.
Ketika hati bertanya:
“Ya Tuhan, kenapa harus aku?”
Dan di titik itulah, kisah Ismail terasa begitu dekat.
Karena Ismail juga manusia, ia punya rasa takut dan punya harapan untuk hidup. Tetapi di hadapan kehendak Tuhan, ia memilih percaya.
Betapa luar biasanya seorang Ismail.
Di saat kebanyakan manusia marah kepada takdir, Ismail justru berkata:
“Jika ini perintah Tuhan, maka aku akan menjalaninya.”
Hari ini, mungkin Tuhan tidak meminta kita berbaring untuk disembelih.
Tetapi Tuhan meminta kita mengorbankan banyak hal dalam hidup.
Mengorbankan ego agar hubungan tetap utuh, mengorbankan gengsi demi bertahan hidup, mengorbankan kenyamanan demi masa depan keluarga, mengorbankan rasa kecewa agar tetap bisa melanjutkan hidup. Dan jujur saja, terkadang yang paling berat bukan kehilangan, tetapi menerima bahwa ada hal-hal yang memang tidak akan pernah bisa kita miliki.
Iduladha datang bukan hanya untuk mengajarkan tentang kurban hewan. Tetapi tentang keberanian manusia untuk ikhlas terhadap ketetapan Tuhan. Karena hidup ini sering kali bukan tentang mendapatkan semua yang kita mau, melainkan tentang belajar percaya bahwa apa yang Tuhan ambil, tidak pernah tanpa alasan.
Mungkin ada doa yang belum dikabulkan karena Tuhan sedang menyelamatkan kita. Mungkin ada kehilangan yang terasa menyakitkan karena Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih baik dan mungkin ada jalan hidup yang terasa berat karena Tuhan ingin kita tumbuh lebih kuat daripada sebelumnya.
Kita adalah Ismail-Ismail hari ini. Generasi yang sedang belajar tegar di tengah dunia yang mudah membuat manusia hancur, Generasi yang tetap berjalan meski hatinya lelah dan Generasi yang terus percaya kepada Tuhan bahkan ketika hidup terasa tidak adil.
Dan seperti kisah Ismail, kita percaya bahwa setelah keikhlasan yang paling dalam, Tuhan selalu menyiapkan pertolongan yang tidak pernah disangka-sangka. Sebab pada akhirnya, tidak ada pengorbanan yang sia-sia di hadapan Tuhan, tidak ada air mata yang luput dari perhatian-Nya dan tidak ada hati yang ikhlas yang akan dibiarkan jatuh sendirian.
Selamat Iduladha 1447 H / 2026 M
Untuk semua orang yang sedang berjuang diam-diam, tetaplah kuat Karena mungkin hari ini kita semua sedang belajar menjadi Ismail sekaligus ibrahim.