Oleh: Sainuddin [Kader IMM Kalimantan Timur]
Proses transisi kepemimpinan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bukan hanya pergantian pucuk pimpinan. Lebih dari itu, momentum ini merupakan upaya menata wajah baru gerakan dengan tetap berlandaskan semangat dakwah persyarikatan yang telah menjadi ruh perjuangan IMM sejak awal berdiri.
Karena itu, semangat muktamar harus diorientasikan sebagai puncak refleksi, penataan ulang arah gerakan, sekaligus ruang konsolidasi kader untuk menyumbangkan khazanah keilmuan bagi pergerakan dakwah dengan semangat Trilogi IMM. Muktamar tidak boleh dimaknai hanya sebagai agenda dua tahunan, melainkan sebagai momentum melahirkan gagasan, memperkuat komitmen, serta mempertegas arah perjuangan organisasi.
Nilai-nilai religiusitas, intelektualitas, dan humanitas tidak dapat dikurangi karena ketiganya merupakan komponen penting dalam mendongkrak formulasi kader. Trilogi IMM harus terus menjadi fondasi dalam setiap proses perkaderan agar mampu melahirkan kader yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan peka terhadap persoalan kemanusiaan.
Inilah yang harus terus dikembangkan dan dijaga sebagai titik temu seluruh kader, dengan satu keyakinan bahwa ghirah berorganisasi harus ditularkan dengan kebahagiaan. Ber-IMM bukan sekadar menjalankan amanah organisasi, tetapi juga menghadirkan ruang yang mampu menumbuhkan semangat, persaudaraan, serta rasa memiliki terhadap gerakan.
Semangat ber-IMM hari ini menjadi tanggung jawab bersama dalam menyebarkan dakwah persyarikatan, khususnya di lingkungan kampus Muhammadiyah. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, IMM harus tetap bersifat inklusif, tidak terkungkung oleh cara pandang yang sempit, melainkan mampu beradaptasi dengan perkembangan tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai dasarnya.
Panggung muktamar sejatinya merupakan ruang bagi Dahlan-Dahlan muda yang datang dari berbagai daerah membawa satu pesan dan satu tujuan, yakni mengintegrasikan semangat fastabiqul khairat. Muktamar harus menjadi ruang adu gagasan, pertukaran pemikiran, dan penguatan visi gerakan, bukan berubah menjadi ruang konsolidasi politik praktis yang justru mengaburkan jati diri organisasi.
Hal inilah yang harus terus dibentengi agar menjadi pembeda yang tegas antara organisasi kemahasiswaan dan partai politik. IMM memiliki karakter perjuangan yang berangkat dari dakwah, keilmuan, dan pengabdian kepada masyarakat, sehingga orientasi geraknya tidak boleh bergeser oleh kepentingan-kepentingan yang bersifat pragmatis.
Kokohnya IMM hari ini tidak lahir secara instan. Organisasi ini berdiri kuat karena perjuangan kader-kader di tingkat komisariat dan cabang yang tanpa lelah terus melahirkan kader-kader progresif. Dari akar rumput inilah denyut kehidupan IMM terus terjaga dan regenerasi kepemimpinan berlangsung secara berkelanjutan.
Sistem yang terintegrasi dalam prinsip kolektif-kolegial menjadi kekuatan utama yang mampu membawa arah dan gerak organisasi secara simultan. Dengan sistem tersebut, setiap tingkatan kepemimpinan memiliki peran yang saling menguatkan demi meningkatkan eskalasi ruang gerak IMM di berbagai bidang pengabdian.
Menyambut Tanwir di Banten akan menjadi salah satu penentu arah masa depan IMM. Oleh karena itu, forum tersebut sudah seharusnya diisi dengan cakrawala ruang-ruang intelektual yang mampu melahirkan rekomendasi strategis bagi organisasi, bukan sekadar agenda seremonial.
Rekomendasi-rekomendasi dari DPD IMM nantinya akan menjadi jawaban sekaligus pertaruhan dalam menentukan sikap dan masa depan IMM. Dari forum itulah akan terlihat apakah IMM mampu memperkuat legitimasi dakwahnya dan menghadirkan keberlanjutan gerakan yang benar-benar dirasakan kader di akar rumput, atau justru hanya menjadi perias dan pesta pora tanpa gagasan serta output yang jelas. Persoalan ini penting, sehingga seluruh kader harus berani melakukan autokritik demi kemajuan IMM.
Pada akhirnya, IMM tidak dapat dipisahkan dari Muhammadiyah. Keduanya merupakan satu kesatuan yang saling menguatkan dalam membangun peradaban. Sebab itu, siapa pun yang dipercaya menjadi pemimpin di setiap tingkatan, mulai dari DPP hingga komisariat, harus mampu memastikan bahwa IMM hadir dalam setiap perjalanan kadernya tanpa terkecuali.
Muhammadiyah akan terus besar karena Ayahanda dan Ibunda senantiasa hadir serta memberikan dampak nyata bagi umat. Dalam sektor kemahasiswaan, IMM wajib mengambil peran sebagai pelanjut estafet perjuangan tersebut, baik hari ini, besok, maupun pada masa yang akan datang. (SR)
